Euforia Masyarakat Indonesia Terhadap Murahnya Tarif Telekomunikasi

Sudah sangat jelas saat ini bahwa praktek komunikasi tak akan pernah lepas dalam kehidupan kita sebagai manusia. Setiap harinya kita berkomunikasi dengan siapa dan apapun, dengan Tuhan, orang tua, teman, diri sendiri, bahkan tak sedikit pula yang “berbicara” dengan mesin, seperti yang dijelaskan oleh Reeves dan Nass (1996) dalam Teori Ekuasi Media-nya. Kenyataan ini semakin menguatkan posisi manusia selain sebagai makhluk yang individualis tapi juga sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, selalu membutuhkan keberadaan orang lain.

Pola kebudayaan manusia terus mengalami perubahan sejak awal masa kehidupannya. Evolusi kebudayaan manusia tersebut digolongkan ke dalam tiga tahap (E. B. Taylor, 1865 dalam Ahimsa-Putra, 2008), yaitu tahap savagery, barbarism dan civilization. Pembeda antara ketiga tahap ini ada pada aspek teknologi dan ekonomi. Berarti bisa dikatakan pula bahwa perkembangan teknologi komunikasi pun mengalami perubahan yang sejalan dengan evolusi kebudayaan manusia tersebut. Jika di awal peradabannya manusia mungkin akan menggunakan asap  api unggun sebagai alat komunikasi, kemudian manusia mulai bergeser menggunakan hewan, burung merpati misalnya, untuk dijadikan perantara. Hingga akhirnya manusia sampai di era civilization, dimana manusia mulai menggunakan peralatan canggih untuk berkomunikasi, sebut saja cellular phone.

Dengan melihat perkembangan zaman saat ini, masyarakat saat ini bisa disebut sebagai masyarakat informasi, yaitu masyarakat yang terkena terpaan media massa dan komunikasi global, masyarakat yang sadar informasi dan mendapatkan penerangan cukup (Dahlan, 1997:6 dalam Abrar, 2003:12) dengan salah satu cirinya adalah mengalami pergeseran dari media cetak ke media visual, media interaktif dan sistem informasi jaringan data (Supriadi, 1995:144). Dalam ilmu komunikasi sendiri, masyarakat informasi adalah masyarakat yang: 1.) menjadikan informasi sebagai komoditas yang sangat berharga ekonomis, 2.) berhubungan dengan masyarakat lain dalam sistem komunikasi global, dan 3.) mengakses informasi superhighway (Abrar, 2003:12).

Berbicara tentang praktek komunikasi pasti tak terlepas dari alat telekomunikasi itu sendiri sebagai perantara si komunikator dan komunikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, telekomunikasi diartikan sebagai komunikasi jarak jauh melalui kawat (telegraf, telepon). Namun, setelah banyak aspek dalam kehidupan manusia mengalami pergeseran, tentunya kita tidak lagi bisa beranggapan bahwa telekomunikasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan telegraf dan telepon saja. Internet, sebagai inovasi baru dalam dunia berkomunikasi masyarakat saat ini, penulis rasa juga bisa digolongkan sebagai alat telekomunikasi. Didukung oleh pernyataan dari Supriadi (1995:7):
Melalui wahana telekomunikasi, manusia mengadakan saling tukar informasi jarak jauh, baik secara lisan (telepon, intercom, CB, radio), tulisan (telegram, teleks, facsimile), maupun audio visual (televisi). Dipacu oleh perkembangan yang cepat di bidang 3C (computer, communicaton, control), wahana telekomunikasi dari waktu ke waktu semakin canggih.

Dalam tulisan ini, penulis akan membicarakan tentang efek dari turunnya tarif telekomunikasi, khususnya pada cellular phone dan internet, terhadap aspek sosial dan ekonomi kehidupan masyarakat Indonesia. Meskipun sebenarnya masyarakat Indonesia secara keseluruhan belum bisa dikatakan sebagai masyarakat informasi, tapi tak bisa dipungkiri bahwa cellular phone dan internet lama kelamaan sudah merasuki kehidupan sebagian besar kehidupan masyarakat urban dan sebagian kecil masyarakat sub-urban Indonesia saat ini.

Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia tak bisa terbebas dari hukum kausalitas, hukum sebab akibat. Termasuk dalam penggunaan cellular phone dan internet sebagai alat telekomunikasi masyarakat saat ini. Akibat yang ditimbulkan pun tak melulu berada di sisi yang positif, tapi pasti mengakibatkan sesuatu yang negatif juga.

Dimulai dari hal baik pada aspek ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia sebagai imbas dari turunnya tarif bertelekomunikasi di Indonesia saat ini. Pertama- tama, sudah jelas bahwa turunnya tarif bertelekomunikasi di Indonesia saat ini memberi kesempatan bagi konsumen untuk melakukan penghematan. Perang tarif, sebut saja begitu, masih saja terus dilakukan antar operator telepon di Indonesia guna menarik konsumen lebih banyak lagi. Tak hanya itu, para operator telepon juga sebenarnya melakukan perang syarat pada setiap promosi tarif yang ditawarkan ke konsumennya. Hal ini dilakukan guna menyiasati murahnya tarif bertelekomunikasi tersebut.

Tak hanya tarif telepon saja yang murah, tapi juga tarif berinternet. Jika dulu warung internet (warnet) di awal kemunculannya bak jamur di musim penghujan, maka saat ini keberadaannya sudah sedikit berkurang. Ini disebabkan semakin mudahnya orang- orang mengakses internet tanpa harus ke warnet. Masyarakat bisa mengakses internet di rumahnya secara unlimited hanya dengan membayar seratus ribu rupiah saja per bulan. Terlebih setelah adanya keputusan pembebasan frekuensi 2.4 GHz di Indonesia, justru keberadaan hot spot lah yang saat ini serupa dengan jamur di musim penghujan. Dengan membeli secangkir kopi saja, seseorang tinggal membawa laptopnya ke hot spot dan bisa nongkrong berjam- jam menikmati akses internet dengan gratis, mereka hanya harus membayar secangkir kopi itu saja.

Murahnya tarif bertelekomunikasi juga bisa lebih memberdayakan masyarakat. Cellular phone  saat ini bukan lagi dianggap sebagai barang eksklusif. Keberadaannya di tengah masyarakat tanpa disadari memunculkan kebutuhan- kebutuhan baru dalam kehidupan masyarakat. Mereka yang memakai cellular phone pasti membutuhkan pulsa. Kebutuhan akan pulsa inilah yang kemudian dilihat secara jeli oleh masyarakat untuk kemudian dikembangkan menjadi bisnis baru. Keberadaan kios pulsa saat ini sangatlah gampang untuk ditemui. Bahkan di Yogyakarta bisa disebut sebagai fenomena “setiap 10 meter pasti ada toko pulsa”.

Bisnis cellular phone bekas juga sudah bisa banyak kita temui saat ini. Sifat konsumtif dan tidak pernah puas manusia seringkali menuntut mereka untuk terus berganti cellular phone dengan model terbaru dan tercanggih. Kenyataan ini juga dipandang oleh sebagian masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai ladang bisnis. Tak hanya melayani jual beli cellular phone saja, kebanyakan mereka juga menyediakan layanan servis kepada konsumennya.

Bertolak dari sifat konsumtif dan tidak pernah puas seorang manusia, turunnya tarif telekomunikasi saat ini sebenarnya juga dapat menimbulkan pemborosan. Menelpon kerabat berjam- jam lamanya, menikmati aktifitas SMS (short message service) seharian tiada henti, mengakibatkan mereka- mereka yang beraktifitas dengan cellular phone seperti itu menjadi boros. Tak terasa, tiba- tiba saja pulsa sudah habis dan mereka harus membeli lagi. Terus terjadi perilaku yang begitu di masyarakat kita ketika tarif telekomunikasi menjadi lebih murah.

Selain boros uang untuk membeli pulsa, sebagian juga menjadi lebih boros lagi karena membeli banyak cellular phone untuk diisi dengan nomor telepon yang berbeda-  beda dari tiap- tiap operator telepon yang ia pilih. Mereka memiliki banyak nomor alasannya adalah untuk memudahkan kerabatnya ketika ingin menghubungi. Memudahkan disini maksudnya adalah membuat kerabatnya mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk menghubunginya. Dari sini jugalah bisnis jual beli cellular phone yang sudah diutarakan di atas muncul dan semakin berkembang.

Sebenarnya tak bisa dikatakan sepenuhnya benar bahwa murahnya tarif telekomunikasi di Indonesia itu memberdayakan masyarakat. Karena di sisi lain tanpa kita sadari hal ini justru menghantui eksistansi industri lain. Contohnya saja dengan semakin murah dan mudahnya mengakses internet, sebagian orang akan memiliki anggapan baru bahwa internetlah jendela dunia, bukan lagi buku. Ini berarti keberadaan media cetak seperti koran atau yang lainnya, sudah berada di ujung tombak. Dalam video EPIC 2015 yang dirilis oleh Sloan dan Thompson tahun 2005 lalu pun diutarakan perkiraan mereka akan nasib surat kabar New York Times di masa depan yang bisa saja mengalami kebangkrutan. Majalah TIME juga sudah melakukan perubahan besar- besaran pada gaya pemberitaan dan tata letaknya. Salah satu alasannya adalah karena tirasnya yang semakin menurun. Pada akhirnya, jika industri media cetak terpaksa untuk gulung tikar, ini berarti akan menyebabkan lebih banyak lagi orang yang menganggur, tidak punya pekerjaan karena tempat ia bekerja, yaitu koran atau organisasi media cetak lainnya, ditutup akibat atensi dari masyarakat terhadapnya yang semakin menurun.

Beralih ke akibat positif dari tarif telekomunikasi yang lebih murah pada aspek kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Penulis memetakan beberapa poin lebih banyak lagi pada aspek ini dibandingkan pada aspek ekonomi.

Pertama, sudah pasti dengan murahnya tarif percakapan telepon, tarif SMS dan biaya untuk mengakses internet, seseorang bisa lebih rajin untuk menghubungi kerabatnya tanpa terbentur dimensi ruang dan waktu. Turunnya tarif telekomunikasi di Indonesia berarti memberikan lebih banyak lagi kesempatan bagi masyarakat untuk saling bersilaturahim dengan sesamanya. Situs pertemanan virtual seperti facebook, friendster dan beberapa fitur instant messenger layaknya Yahoo! Messenger di internet juga memungkinkan banyak orang untuk lebih memperluas jaringan pertemanannya, menambah relasi dan lagi- lagi mempererat tali silaturahim.

Sudah sempat disinggung sebelumnya bahwa akan ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa saat ini internetlah jendela dunia. Mereka berpikir bahwa apapun dapat ditemukan di internet. Anggapan- anggapan seperti itu memang tidak bisa kita sangkal begitu saja. Semakin sedikit jumlah uang yang dibutuhkan untuk mengakses internet, memungkinkan masyarakat untuk lebih sering lagi mengakses jutaan informasi yang ada di internet yang sedikit banyak memang menjadikan para penggunanya menjadi lebih banyak tahu tentang segala hal yang ada di dunia ini.

Produktivitas diri seseorang yang meningkat ketika bekerja juga bisa dikatakan sebagai imbas murahnya tarif bertelekomunikasi di Indonesia. Misalnya saja bagi seorang wartawan yang sedang pergi ke suatu tempat untuk mencari berita. Ketika ia harus dengan segera mengirimkan berita yang ia dapatkan ke kantor berita tempatnya bekerja, ia tidak perlu bingung memikirkan mahalnya tarif menelepon atau mengakses internet ketika ingin mengirimkan beritanya melalui e-mail ke kantor.

Masyarakat di pelosok desa juga bisa semakin mudah mengakses dunia luar. Posisi cellular phone yang sudah tidak dianggap lagi sebagai barang eksklusif dan semakin murahnya harga pulsa saat ini memungkinkan mereka untuk memilikinya juga dan kemudian menggunakannya untuk berkomunikasi dengan kerabat.

Ada akibat positif, pasti ada juga akibat negatif dari fenomena semakin murahnya tarif bertelekomunikasi di Indonesia saat ini. Contohnya adalah masalah pornografi yang semakin meresahkan kalangan masyarakat. Murahnya tarif mengakses internet, yang bahkan saat ini juga sudah bisa diakses melalui cellular phone dengan tarif yang juga murah, semakin mempermudah mereka yang hobi mengakses hal- hal porno.

Tak hanya sampai di situ, masih ada lagi beberapa akibat negatif dari semakin murahnya tarif mengakses internet. Salah satunya adalah kesenjangan sosial yang akan semakin melebar, yang awalnya diakibatkan karena rasa kecanduan yang dialami saat beraktifitas dengan internet, seperti kegiatan chatting atau bermain game on line. Ketika seseorang sudah berasyik masyuk dengan aktifitasnya di internet, tanpa disadari maka ia akan melalaikan orang- orang di sekitarnya, dan tentu saja ini bukanlah hal yang baik.

Kesenjangan sosial juga bisa timbul dari sifat iri dengki seseorang ketika melihat kerabatnya memiliki cellular phone lebih dari satu. Orang tersebut bisa saja merasa tak mau kalah dan berusaha sebisa mungkin memiliki cellular phone dengan jumlah yang sama dengan kerabatnya tersebut atau bahkan lebih banyak. Celakanya jika mereka berusaha mendapatkan cellular phone tambahan tersebut dengan cara yang tidak halal.

Kemudahan menemukan berbagai informasi di internet, terlebih didukung oleh tarifnya yang semakin murah juga dapat menyebabkan minat baca masyarakat semakin menurun. Masyarakat akan menjadi lebih malas untuk mencari tahu lewat buku, mereka akan lebih rajin mencarinya melalui jaringan internet karena lebih cepat dan praktis.

Perang tarif yang terus berlangsung saat ini telah berhasil mempersuasi sebagian masyarakat untuk melakukan perubahan nomor telepon demi mendapatkan tarif termurah. Hal ini justru terkadang menjadi senjata makan tuan bagi mereka. Semakin sering  mereka merubah nomornya, maka akan semakin sulit bagi kerabatnya untuk menghubungi dia. Kerabatnya akan merasa bingung dengan nomornya yang mendadak mati dan tidak bisa dihubungi lagi. Ini berarti turunnya tarif bertelekomunikasi tak selalu mempererat tali silaturahim tapi justru bisa memutus tali silaturahim.

Kehadiran alat telekomunikasi baru dan canggih semacam cellular phone dan internet secara mendadak dan masif di kehidupan masyarakat Indonesia tak jarang membuat sebagian dari mereka merasa shock. Mereka akan merasa bahwa mereka harus bisa mengikuti evolusi budaya ini. Akibatnya justru masyarakat Indonesia secara tak disadari berada di posisi kebudayaan yang serba tak jelas. Ada yang masih tergolong masyarakat agraris, ada yang tetap menjadi masyarakat industri dan ada pula sebagian sudah menjadi masyarakat informasi. Kebudayaan masyarakat di Indonesia justru terlihat tumpang tindih. Penggunaan cellular phone sebagai media untuk mencari tahu tentang primbon, penggunaan fitur blog di internet untuk memasarkan hal- hal berbau spiritual seperti perdagangan jin ataupun untuk hal tidak senonoh, seperti penjualan pil aborsi.

Keputusan para operator telepon di dalam menurunkan tarif telekomunikasi memang sebagian dirasa cukup tepat sasaran, setelah kita lihat dari berbagai akibat positifnya. Namun ada baiknya jika mereka juga mempertimbangan akibat- akibat negatif yang mungkin saja muncul dan kemudian berusaha mencari cara guna meminimalisir agar hal- hal buruk yang tidak diharapkan tersebut terus berlangsung.

Pihak masyarakat juga sepatutnya membatasi diri di dalam memanfaatkan murahnya tarif bertelekomunikasi yang sudah ditawarkan. Masyarakat seharusnya tahu batas antara hal baik dan buruk sehingga bisa menggunakan alat bertelekomunikasi dan kemudian memanfaatkan murahnya tarif bertelekomunikasi dengan tepat guna.

Sumber:
Abrar, Ana Nadhya. 2003. Teknologi Komunikasi Perspektif Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: LESFI.
Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2008. Paradigma dan Revolusi Ilmu Dalam Antropologi Budaya Sketsa Beberapa Episode Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Supriadi, Dedi. 1995. Era Baru Bisnis Telekomunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.

http://www.uky.edu/~drlane/capstone/mass/equation.html

One Response to “Euforia Masyarakat Indonesia Terhadap Murahnya Tarif Telekomunikasi”

  1. hehe hasil reinkarnasi pikiran kita selama beberapa malam ya beb :p
    good luck ya buat competitionnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: