HIDUP hidup!

hmm. perkuliahan di siang ini asyik! serius. baru kali ini sy merasa bisa menikmati kuliahnya si dosen itu. entah, mungkin karena sy merasa tadi siang itu benar- benar menjadi wadah sharing antara maunya dosen sama maunya mahasiswa itu piye. selain itu, sy juga merasa, ya dosen, buka mata anda, jangan pukul rata kami semua! walaupun dari beberapa statement anda berikutnya sifat memukul rata berdasarkan pemikiran yg sy rasa masih tergolong dangkal itu tetap ada. come on, anda bisa mengukur kapasitas berpikir anak dari cara berpakaiannya? sigh. kami tidak sesimpel itu.

anw! pada awalnya ide utama dr tulisan kali ini adalah bukan itu semua, bukan perubahan yg diobrolkan di kelas tadi, bukan si dosen, bukan para mahasiswa, terlebih- lebih cara berpakaiannya, bukan- bukan! ide utamanya adalah cara kita menjalani kehidupan. apa itu hidup, bagaimana cara menjalaninya, dan sekian deretan pertanyaan klise lainnya tg hidup yg memang nggak akan bisa diartikan secara saklek pada akhirnya.

sempat membaca note teman  tg cara menjalani hidup. dia bertanya, mengeluh. memangnya tidak bisakah kita ini menjalani kehidupan itu ya santai saja? menurut apa yg terjadi, menurut arus. tidak bisakah kita hidup tanpa memikirkan hubungan kita dengan teman, keluarga, pacar, lingkungan sekitar? tidak bisakah kita hidup ini dengan cuek, tenang, damai, maunya kita apa ya kita jalani, kalau nggak bisa dapat apa yg kita mau ya dikejar di waktu berikutnya, dst. haruskah memang hidup ini diisi dengan hal- hal seperti relasi dengan kawan, senior, tetangga, dosen, dll? memangnya kita nggak bisa hidup ya kalau tanpa mereka? hmm. sampai pada titik ini sy merasa kalau manusia itu mungkin hampir semuanya plin plan ya? katanya makhluk sosial, membutuhkan makhluk lain, tapi ada saat- saat dimana mereka sombong, egois, cuek dg sekitar. tapi ada juga momen dimana ketika manusia itu seorang diri, dicuekin, dia kemudian merasa hidup ini nggak adil, dirinya terabaikan, dikucilkan, dan kemudian menyalahi orang sekitar yg katanya tidak peduli dg sekitarnya. bagaimana? entahlah…

membaca  a cat in my eyes, fahd djibran yg langsung habis dalam sekali perjalanan sby-jogja, ada satu cerita yg saya suka, skizofrenia. dimulai dari paragraf ke-4 (di luar sajak Orang Gila di Tengah Hujan) dst, sy suka dan sy merasa setuju dengannya! ha-ha! djibran bertanya tg hidup yg terus- terusan dibatasi oleh ketegasan dan distorsi. dia bertanya kenapa hidup terisi dengan elemen- elemen dua kutub yg memang akan selalu ada dalam hidup, dan menurut sy, sampai saat ini pun elemen- elemen tsb masih dianggap “wajib” bagi seseorang utk dipilih dan kemudian dianut dalam jalan kehidupannya. dua kutub yg dimaksud di sini adl semacam baik-buruk, hitam-putih, positif-negatif, dst. dan kemudian, banyak orang sy rasa, menganggap bahwa sifat berada di tengah itu condong negatif, dianggap plin plan. orang yg berada di zona abu- abu itu orang yg nggak berpendirian, tidak jelas, dst. djibran menulis, “apakah kau ingin berada di antara keduanya, Dada? berada di dunia abu- abu. berdiri sbg abu- abu sehingga benar- benar tahu limit antara hitam dan putih. netral hingga bisa jelas menafsirkan anatar baik dan buruk. berada di antara gaya tarik-menarik antara positif dan negatif agar tahu sebesar apa kekuatan keduanya. tidak gila atau waras. tetapi, keduanya.” hmm. menarik? menurut sy, ya!

orang yg berada di zona abu- abu tidak bisa selalu kita asumsikan dg sesuatu yg tidak berpendirian, tidak jelas arahnya, pribadi yg abstrak, dst. hal positif dari orang- orang seperti itu adalah mereka menjadi lebih fleksibel, menurut sy mereka justru lebih tahu apa yg cocok utk mereka, mereka merasa cocok dg putih, ya mereka ikut putih. tapi jika di kesempatan lain dia lebih cocok dg hitam, ya dia tidak sungkan utk berjalan bersama hitam. mereka bukanlah orang- orang yg memaksakan pendiriannya di sisi hitam saja atau putih saja. orang yg berada di tengah- tengah ini juga terkesan lebih adaptif. karena ya itu tadi, bisa sesuka hati memilih yg mereka rasa cocok dg dirinya dan tentunya keberpihakannya pada satu pihak itu dibarengi dg kemampuan adaptasi jg dg orang- orang yg sebelumnya memang sudah berada di sisi itu. mereka adl orang- orang yg tidak stuck pada satu arah saja, mereka tahu, sadar, bahwa hidup ini akan terus selalu mengalami perubahan, maka mereka pun harus dg fleksibel dan enak mengikuti perubahan tersebut, tentunya dg cara mereka masing- masing.

dan kembali sy menyetujui apa yg dikatakan djibran: adanya sebuah kegilaan, madness, yg sudah tidak mampu lagi kita raba, kita ukur, kita telaah, dalam kehidupan manusia saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: